Awal yang Tak Baru


Ada rumah-rumah yang tak benar-benar ditinggalkan.

Mereka hanya lama tak dihuni.

Tempat ini, misalnya.

Ia pernah bernafas dari tangan yang lain, dari hati yang lebih dahulu pandai menerjemahkan diam menjadi kalimat. Ada jejak yang sengaja tidak saya hapus, sebab beberapa hal memang tidak perlu dilupakan untuk bisa diteruskan. Ada cinta yang tetap tinggal di dinding-dindingnya, meski musim berganti dan debu sempat merasa berhak atas seluruh ruang.

Hari ini saya datang, bukan sebagai orang yang sama, juga bukan untuk menjadi bayangan dari siapa yang pernah menulis di sini. Saya datang dengan suara yang mungkin lebih pelan, tapi lebih jujur. Dengan langkah yang mungkin tak tergesa, tapi lebih tahu ke mana ingin berlabuh.

Sebab pada akhirnya, hidup selalu punya cara yang aneh untuk mempertemukan kita lagi dengan tempat-tempat yang pernah kita tinggalkan. Bukan untuk mengulang, melainkan untuk memahami bahwa jarak ternyata bisa mematangkan, bahwa sunyi tidak selalu kosong, bahwa kehilangan arah kadang hanya cara semesta mengajari kita arti pulang.

Maka biarlah ini menjadi awal yang lain.

Bukan halaman pertama, tetapi mungkin halaman yang akhirnya ditulis dengan benar-benar milik sendiri.

Saya tidak datang membawa janji-janji besar. Saya hanya membawa niat untuk lebih setia pada suara di dalam diri, pada hal-hal yang selama ini tumbuh diam-diam, luka yang sudah belajar menjadi tenang, rindu yang tak lagi menuntut, dan harapan yang tetap hidup meski berkali-kali patah. Saya ingin menulis seperti seseorang yang telah selesai bersembunyi. Seperti seseorang yang tahu bahwa menjadi rapuh bukanlah kekalahan, dan menjadi berbeda bukanlah alasan untuk meminta maaf.

Ada yang sedang dirayakan hari ini, diam-diam, tak banyak orang tau, hanya di dalam doa dan keheningan malam.

Ternyata aku mampu sampai di sini.

Bahwa setelah banyak hal berlalu, saya masih punya kata-kata yang tak sempat terucapkan sebelumnya.

Bahwa setelah sekian lama, saya masih ingin mengetuk pintu yang sama, lalu membukanya dengan tangan yang baru.

Jadi, jika nanti tulisan-tulisan di sini terasa berbeda, biarkan saja.

Bukankah setiap rumah akan berubah ketika penghuninya bertumbuh?

Dan kalau kamu bertanya, apakah ini sebuah perpisahan dengan yang dulu?

Tidak.

Ini hanya cara lain untuk mencintai yang pernah ada, sambil memberi ruang bagi yang sedang lahir.

Selamat datang kembali, kataku pada diri sendiri.

Selamat datang pada cahaya yang tak selalu gemerlap, tetapi cukup untuk menuntun.

Selamat datang pada awal yang tak baru

namun kali ini, semoga lebih utuh.


malaka



Comments

Popular Posts